Di tengah dinamika dunia kesehatan yang semakin kompleks, rumah sakit tak cukup hanya bertahan—mereka harus unggul. Unggul dalam pelayanan, manajemen, fasilitas, hingga pengalaman pasien. Salah satu strategi yang terbukti mendorong keunggulan itu adalah benchmarking.
Tapi bagaimana cara melakukan benchmarking rumah sakit yang efektif? Artikel ini akan membahas langkah-langkah praktis sekaligus indikator apa saja yang bisa dijadikan acuan pembanding.
Apa Itu Saja yang Bisa Dibandingkan?
Dalam konteks rumah sakit, beberapa aspek yang umum dijadikan objek benchmarking antara lain:
- Kualitas klinis: Tingkat infeksi, readmisi, mortalitas, dan kepatuhan terhadap protokol medis.
- Efisiensi operasional: Rata-rata lama rawat inap, waktu tunggu pasien, dan efisiensi penggunaan tempat tidur.
- Keselamatan pasien: Insiden keselamatan, pelaporan insiden, sistem manajemen risiko.
- Kepuasan pasien dan keluarga: Skor survei kepuasan, waktu respon layanan, komunikasi tenaga medis.
- Manajemen sumber daya: Rasio tenaga kesehatan, penggunaan obat, dan efisiensi anggaran.
Langkah-Langkah Benchmarking yang Efektif
Berikut langkah strategis untuk melakukan benchmarking rumah sakit dengan hasil yang berdampak nyata:
-
Tentukan Tujuan Benchmarking
Apakah ingin meningkatkan efisiensi unit gawat darurat? Menurunkan tingkat infeksi nosokomial? Atau mengejar akreditasi internasional? Tujuan yang spesifik akan membantu menentukan indikator dan metode yang tepat.
-
Pilih Indikator Kinerja Kunci (Key Performance Indicators/KPI)
Gunakan indikator yang terukur, relevan, dan valid. Misalnya, average length of stay (ALOS), bed occupancy rate (BOR), atau net promoter score (NPS).
-
Identifikasi Mitra Pembanding
Bisa berupa rumah sakit dengan reputasi baik, institusi sejenis dengan ukuran dan tipe layanan yang serupa, atau bahkan rumah sakit luar negeri jika ingin mengadopsi standar global.
-
Kumpulkan dan Bandingkan Data
Gunakan data yang kredibel dan terkini. Perhatikan konteks perbandingan—misalnya, rumah sakit tipe A tentu berbeda dengan tipe C dari sisi kompleksitas kasus dan fasilitas.
-
Analisis Gap dan Cari Akar Masalah
Temukan perbedaan mencolok dari hasil benchmarking. Lalu, lakukan analisis akar penyebab (root cause analysis) untuk memahami mengapa gap itu terjadi.
-
Terapkan Perbaikan dan Evaluasi Berkala
Ubah hasil benchmarking menjadi action plan. Setelah implementasi, lakukan evaluasi berkala dan benchmarking ulang untuk mengukur perbaikan.
Tips Praktis Agar Benchmarking Lebih Optimal
- Gunakan teknologi digital seperti dashboard kinerja rumah sakit.
- Libatkan tim multidisiplin dalam proses benchmarking (dokter, manajer, perawat, analis data).
- Bangun budaya terbuka terhadap perubahan dan perbaikan.
- Jaga kerahasiaan dan etika saat berbagi data antar institusi.
Studi Singkat: Benchmarking BOR Antar Rumah Sakit
Sebuah rumah sakit di Jakarta melakukan benchmarking terhadap tingkat Bed Occupancy Rate (BOR) dan menemukan bahwa mereka tertinggal jauh dari rumah sakit lain dengan efisiensi ruang rawat tinggi. Setelah menelusuri penyebabnya, mereka mengubah sistem discharge planning, dan hasilnya BOR meningkat 20% dalam 6 bulan. Ini menunjukkan bahwa data benchmarking yang dikaji dengan tepat bisa langsung berdampak pada performa rumah sakit.
Kesimpulan
Benchmarking bukan sekadar alat pembanding—ia adalah kompas penunjuk arah perubahan dan inovasi. Ketika dilakukan dengan tepat, benchmarking mampu membawa rumah sakit melompat dari “baik” menjadi “unggul”. Jadi, jika Anda ingin melihat rumah sakit tumbuh secara strategis, benchmarking yang efektif adalah langkah awal yang tidak boleh dilewatkan.
Referensi
- Bahadori, M., Ravangard, R., Raadabadi, M., & Mahbobi, M. (2015). Hospital performance indicators and their role in benchmarking: A systematic review. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 9(10), IE01–IE05. https://doi.org/10.7860/JCDR/2015/14272.6649
- Camp, R. C. (1989). Benchmarking: The search for industry best practices that lead to superior performance. Milwaukee, WI: ASQC Quality Press.
- Zairi, M. (1994). Benchmarking for best practice: Continuous learning through sustainable innovation. Oxford, UK: Butterworth-Heinemann.
- Arahman, A., Lestari, S., & Hamid, Y. (2020). Pengaruh benchmarking terhadap mutu layanan rumah sakit: Studi pada rumah sakit tipe B di Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Indonesia, 5(2), 123–131.
- Komite Akreditasi Rumah Sakit. (2022). Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1.1. Jakarta: KARS.
- Joint Commission International. (2017). Joint Commission International accreditation standards for hospitals (6th ed.). Oakbrook Terrace, IL: Joint Commission Resources.
Penulis : Zulfiqar Hamid
Reviewer : Nahda Salimah